Kamis, 30 Oktober 2014

Gunung Menumbing




 



Gunung Menumbing (355m) adalah gunung yang cukup tinggi di sekitar daerah Mentok (Barat Laut Bangka) berdiri sebagai memorial sejarah bangsa Indonesia. Penginapan yang dibagun di sini oleh Belanda tahun 1932 dahulu digunakan sebagai rumah mantan Presiden Indonesia Soekarno dan Wakil Presiden Hatta selama ditahan dari bulan Februari sampai Juli 1949.

Kamis, 09 Oktober 2014

Infrastruktur

Infrastruktur penunjang kegiatan perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang secara umum cukup memadai antara lain telah tersedianya pasar serta pusat-pusat perbelanjaan. Pasar terbagi atas atas pasar besar dan pasar kecil (tradisional).

Pos dan telekomunikasi memegang peran penting dalam mendorong percepatan arus informasi. Pelayanan jasa pos dan telekomunikasi di provinsi kepulauan bangka belitung meliputi pengiriman surat, kargo, telepon, dan facsimile. Ada 3 profider seluler di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu telkomsel, excelcomindo, indosat.

Sistem kelistrikan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari dua sistem yaitu sistem yang dimiliki oleh PT. PLN (persero) dan sistem yang dimiliki oleh pihak swasta yaitu PT. Timah, Tbk dan PT. Koba Tin. Sistem kelistrikan PT. PLN (persero) di wilayah usaha Bangka Belitung: sistem Bangka memiliki 6 pusat PLTD milik sendiri dan beberapa pembangkit dengan sistem sewa, dan sistem Belitung memiliki 2 pusat PLTD.

Transportasi darat merupakan salah satu peran penting dalam memperlancar kegiatan perekonomian. Dari 3.193,36 km panjang jalan di Kepulauan Bangka Belitung, 16,62%merupakan jalan negara, 16,26% jalan provinsi dan 67,12% jalan kabupaten.

Perhubungan laut merupakan transportasi yang strategis bagi Kepulauan Bangka Belitung sebagai provinsi kepulauan untuk berinteraksi dengan provinsi lain. Di Kepulauan Bangka Belitung terdapat 8 pelabuhan yang terdiri dari 3 pelabuhan khusus barang dan 5 pelabuhan penumpang sekaligus barang.enam dari delapan pelabuhan tersebut berada di Pulau Bangka dan dua lainnya di Pulau Belitung. Transportasi air yang bergerak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung antara lain perusahaan PELNI dan perusahaan swasta. Jalur pelayaran dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah : tujuan Jakarta, Palembang, Tanjung Pinang, Surabaya, dan Pontianak.


Transportasi udara merupakan sarana transportasi merupakan sarana alternatif di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selain transportasi darat dan air. Di Kepulauan Bangka Belitung ada 2 pelabuhan udara yaitu Bandar Udara Depati Amir di Pulau Bangka dan HAS. Hanandjoeddin di Pulau Belitung. Maskapai penerbangan yang beroperasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung antara lain Sriwijaya Air, Lion Air, Adam Air Kartika Air dan Riau Air Lines.

sumber : http://portal.babelprov.go.id/content/infrastruktur

Ekonomi



Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi perekonomian di suatu wilayah dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun. Pada tahun 2011, PDRB atas dasar harga berlaku di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan migas mengalami peningkatan dari 26.565.032 juta rupiah pada tahun 2010 menjadi 30.254.777 juta rupiah pada tahun 2011. Sedangkan PDRB tanpa migas juga mengalami peningkatan dari 25.959.503 juta rupiah di tahun 2010 menjadi 29.620.050 juta rupiah di tahun 2011.

STRUKTUR EKONOMI
Perekonomian di Provinsi Kepulau Bangka Belitung tahun 2011 kontribusi terbesarnya berasal dari sektor tersier dengan kontribusi sebesar (35,85%). Sektor tersier terdiri dari sektor perdagangan,hotel dan resto (19,18%), sektor pengangkutan dan komunikasi (3,27%), sektor keuangan real estate dan jasa perusahaan (2,61%),  dan sektor jasa jasa (10,79%). Penopang kedua adalah sektor primer dengan kontribusi 35,14 persen yang meliputi sektor pertanian (18,41%) dan sektor pertambangan dan penggalian (16,73%). Sedangkan kontribusi terkecil adalah sektor sekunder sebesar (29,01%)yang terdiri dari sektor industri pengolahan (20,56%), sektor listrik,gas dan air bersih (0,67%) dan sektor konstruksi ( 7 ,78%).


PERTUMBUHAN EKONOMI
Perkembangan PDRB atas dasar harga konstan merupakan salah satu indikator penting untuk melihat seberapa besar pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengevaluasi hasil-hasil dari pembangunan. Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2011 mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2010. Berdasarkan penghitungan PDRB atas dasar harga konstan 2000, laju pertumbuhan ekonomi tahun 2011 dengan migas adalah 6,40% dan pertumbuhan ekonomi tanpa migas adalah 6,47%.


Dilihat dari sisi pengeluaran, PDRB atas dasar harga berlaku terbesar digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 51,56%.


PDRB per kapita merupakan salah satu ukuran indikator kesejahteraan penduduk dan sering digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran penduduk di suatu wilayah. Pada tahun 2011, PDRB perkapita penduduk berdasarkan harga berlaku di wilayah ini dengan migas sebesar Rp. 23.978.672 sedangkan tanpa migas sebesar Rp. 23.475.613. Jika dibandingkan tahun 2010, pendapatan perkapita di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami peningkatan.

sumber : http://portal.babelprov.go.id/content/ekonomi

Sosial Budaya



Penduduk Pulau Bangka Belitung yang semula dihuni orang dari suku laut, dalam perjalanan sejarah yang panjang membentuk proses akulturasi dan kulturisasi .Orang-orang dari suku laut itu sendiri berasal dari berbagai pulau. Orang dari laut dari Belitung berlayar dan menghuni pantai-pantai di Malaka. Sementara mereka yang sudah berasimilasi menyebar ke seluruh Tanah Semenanjung dan pulau-pulau di Riau. Kemudian kembali dan menempati lagi Pulau Bangka dan Belitung. Sedangkan mereka yang tinggal di Riau Kepulauan berlayar ke Bangka. Datang juga kelompok-kelompok Orang dari Laut dari Pulau Sulawesi dan Kalimantan. Pada gelombang berikutnya, ketika mulai dikenal adanya Suku Bugis, mereka datang dan menetap di Bangka, Belitung dan Riau. Lalu datang pula orang dari Johor, Siantan yang Melayu, campuran Melayu-Cina, dan juga asli Cina, berbaur dalam proses akulturasi dan kulturisasi. Kemudian datang pula orang-orang Minangkabau, Banjar,jawa, Kepulauan ,Aceh,Bawean, dan beberapa suku lain yang sudah lebih dulu melebur. Lalu jadilah suatu generasi baru: Orang Melayu Bangka Belitung.


Bahasa Melayu adalaha bahasa yang paling dominan di kepulauan Bangka Belitung yang juga disebut sebagai bahasa daerah, namun seiring dengan keanekaragaman suku bangsa, bahasa lain yang digunakan antara lain bahasa Jawa  serta bahasa Mandarin.

sumber:  http://portal.babelprov.go.id/content/sosial-budaya

Kependudukan



Jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2011 berdasarkan hasil estimasi dari Sensus Penduduk 2010 sebesar  1.261.737  jiwa , bertambah 3,14 persen dibandingkan tahun 2010 yang sebesar 1.223.296 jiwa. Penduduk berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan. Jumlah penduduk laki-laki pada tahun 2011 sebanyak 655.051 jiwa sedangkan penduduk perempuan sebanyak 606.686.  Tingkat kepadatan penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2000-2010 sebesar 3,14 persen, jika ditinjau menurut kota/kabupaten untuk periode tahun 2000-2010, tingkat pertumbuhan tertinggi terdapat di Kabupaten Bangka Tengah sebesar 3,81 persen, dan terendah di Kabupaten Belitung Timur 2,76 persen. Tingkat kepadatan penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus meningkat sepanjang tahun, tahun 2011 mencapai  77 orang per km2, apabila dilihat menurut kabupaten/kota, Kota Pangkalpinang memiliki tingkat kepadatan tertinggi yaitu sebesar 1.517 orang per km2 dan Kabupaten Belitung Timur memiliki tingkat kepadatan terendah yaitu 44 orang per km2.

Jumlah Penduduk Kepulauan Bangka Belitung

KAB/KOTA
PENDUDUK
JUMLAH
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
Bangka
Belitung
Bangka Barat
Bangka Tengah
Bangka Selatan
Belitung Timur
Pangkalpinang
148.899
83.248
94.132
87.077
92.322
57.061
92.313
137.016
77.618
86.522
79.217
85.627
52.748
87.937
285.915
160.866
180.654
166.294
177.949
109.809
180.250
Jumlah
655.051
606.686
1.261.737

sumber: http://portal.babelprov.go.id/content/kependudukan

Arti Dari Lambang Daerah


Perisai Bersudut Lima, melambangkan Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kepulauan Bangka Belitung melambangkan sistem pemerintah, wilayah, masyarakat,  sumberdaya alam dan kebudayaan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Lingkaran Bulat Simetrikal, melambangkan kesatuan dan persatuan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam menghadapi segala tantangan di tengah-tengah peradaban dunia yang semakin terbuka.

Buah Lada, berjumlah 31 buah melambangkan Kepulauan Bangka Belitung merupakan Propinsi ke 31 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Butir Padi berjumlah 27 buah melambangkan nomor dari Undang-undang pembentukan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu UU No.27 Tahun 2000. Padi dan buah lada juga melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran.

Balok Timah, melambangkan kekayaan alam (hasil bumi pokok) berupa timah yang dalam sejarah secara social ekonomis telah menopang kehidupan masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung selama lebih dari 300 tahun. (diketemukan dan dikelola dari tahun 1710 Mary Schommers dalam Bangka Tin).

Biru Tua dan Biru Muda (Dalam Perisai dan Lingkaran Hitam), melambangkan bahari dunia kelautan dari yang dangkal sampai yang terdalam. Menyiratkan lautan dengan segala kekayaan alam yang ada di atasnya, di dalam dan di dasar lautan yang dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.

Putih (Tulisan), melambangkan keteguhan dan perdamaian.
Hijau (Pulau dan Lada), melambangkan kesuburan.
Kuning ( Padi dan Semboyan), melambangkan ketentraman dan kekuatan.
Hitam (Outline Lingkaran), melambangkan ketegasan.

Serumpun Sebalai, menunjukan bahwa kekayaan alam dan plularisme masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung tetap merupakan kelurga besar komunitas (serumpun) yang memiliki perjuangan yang sama untuk menciptakan kesejahteraan , kemakmuran, keadilan dan perdamaian.

Untuk mewujudkan perjuangan tersebut, dengan budaya masyarakat melayu berkumpul, bermusyawarah, mufakat, berkerjasama dan bersyukur bersama-sama dalam semangat kekeluargaan (serumpun sebalai) merupakan wahana yang paling kuat untuk dilestarikan dan dikembangkan. Nilai- nilai universal budaya ini juga dimiliki oleh beragam etnis yang hidup di Bumi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dengan demikian, Serumpun Sebalai mencerminkan sebuah eksistensi masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan kesadaran dan cita­-citanya untuk tetap menjadi keluarga besar dalam perjuangan dan proses kehidupannya senantiasa mengutamakan dialog secara kekeluargaan, musyawarah dan mufakat serta berkerja sama dan senantiasa mensyukuri nikmat Tuhan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.


Serumpun Sebalai, merupakan semboyan penegakan demokrasi melalui musyawarah dan mufakat.

sumber : http://portal.babelprov.go.id/content/lambang-daerah-dan-artinya

Rabu, 08 Oktober 2014

Sekilas tentang Bangka Belitung



Pulau Bangka Belitung adalah sebuah provinsi yang namanya diambil dari dua  kepulauan yaitu Bangka dan Belitung yang telah lama dikenal sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia dan memiliki pesona alam pantai yang mengagumkan. Selain dua pulau besar juga ada pulau-pulau kecil seperti Pulau Lepar, Pulau Pongok, Pulau Mendanau dan Pulau Selat Nasik, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 pulau dan yang berpenghuni hanya 50 pulau.
Kepulauan Bangka Belitung memiliki Iklim tropis yang dipengaruhi angin musim yang mengalami bulan basah sekitar tujuh bulan sepanjang tahun dan bulan kering selama lima bulan terus-menerus.
Pulau Bangka terletak di sebelah pesisir timur Sumatera bagian Selatan yaitu 1°20’-3°7 Lintang Selatan dan 105° - 107° Bujur Timur memanjang dari Barat Laut ke Tenggara sepanjang  kurang lebih 180 km. Pulau ini terdiri dari rawa-rawa, daratan rendah, bukit-bukit dan puncak bukit terdapat hutan lebat, sedangkan di sekitar daerah rawa terdapat hutan bakau. Rawa daratan pulau Bangka tidak begitu berbeda dengan rawa di pulau Sumatera, sedangkan keistimewaan pantainya dibandingkan dengan daerah lain adalah pantainya yang landai berpasir putih dengan dihiasi hamparan batu granit. Bangka Belitung menawarkan Anda wisata bahari seperti menyelam, snorkeling, memancing dan berlayar.

Sejarah

Kata Bangka berasal dari vangka yang berarti Timah, karena wilayah ini memang kaya barang tambang timah. Setelah timah ditemukan di sini abad ke-17, membuat Bangka mendapatkan kekayaan dan terkenal sebagai penghasil Timah terbesar di Indonesia.  Sekarang meski masih ditambang namun tidak sebanyak seperti dahulu.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebelumnya adalah bagian dari Sumatera Selatan kemudian menjadi provinsi tersendiri bersamaan dengan  provinsi Banten dan Gorontalo pada tahun 2000. Ibukota provinsi ini adalah Pangkalpinang.

Transportasi

Tersedia penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta atau Anda dapat mengunjungi Bangka Belitung dengan kapal laut dari Palembang.
Masyarakat dan Budaya
Sekitar 20% penduduk Bangka Belitung adalah keturunan Cina. Mayoritas warga keturunan Cina di sini merupakan keturunan langsung dari buruh yang bekerja di tambang timah. Kelenteng tertua yang berada di Batu Rusa, sebuah desa di sepanjang jalan dari Pangkal Pinang ke Sungai Liat. Kelenteng yang didekorasi indah dapat ditemukan dekat Tayu di sebelah Utara Pulau Bangka. Ada sekitar 55 kelenteng Cina-Budha di Bangka sendiri yang sampai saat ini masih digunakan sebagai tempat ibadah.

Kuliner

Selama Anda berada di sini cobalah wisata kuliner dengan mencicipi makanan gebung, sebutan lokal khas untuk ikan ayam yang dagingnya yang lembut dan lezat. Karena jaraknya yang dekat dengan laut, seafood menjadi makanan favorit di sini. Pengaruh budaya Cina juga dapat kita lihat dari makanan yang sebagian besar menggunakan bumbu-bumbu khas Cina.

sumber : http://www.indonesia.travel/id/discover-indonesia/region-detail/26/bangka-belitung

Senin, 29 September 2014

Museum Timah Bangka-Belitung

Wisata sejarah dan edukasi, inilah yang bisa Anda dapatkan saat mengunjungi Museum Timah di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Museum Yang dulunya rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW) tersebut beralamat di Jalan Ahmad Yani No. 179, Pangkalpinang. Didirikan tahun 1958, Museum Timah Indonesia adalah satu-satunya museum timah di Indonesia dan bahkan di Asia  dimana kini dikelola PT. Tambang Timah (Persero) Tbk.

Penambangan timah sendiri berkembang pesat di Bangka sejak 1858 dimana  banyak ditemukannya benda-benda tradisional penambang zaman dahulu. Inilah yang mengawali pembangunan Museum Timah dan yang tentu saja keberadaannya untuk “mendokumentasikan” sejarah penambangan timah di Bangka Belitung yang sempat sangat berjaya di masa silam dan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas.

Meski telah ada sejak tahun 50-an, Museum Timah baru diresmikan pada 2 Agustus 1997. Selain menyimpan catatan perjalanan panjang sejarah pertimahan, gedung ini juga memiliki nilai sejarah yang penting bagi kemerdekaan RI. Gedung tersebut pernah menjadi lokasi perundingan Komisi Tiga Negara sehingga lahirlah Roem-Royen Statement pada 7 Mei 1949 yang berujung pada penyerahan kedaulatan Republik Indonesia pada Desember 1949.

Bangka dan timah memang tak terpisahkan. Nama Bangka sendiri berasal dariwangka yang artinya timah. Bagaimana tidak, timah di pulau ini dulunya sangat melimpah dan berharga tinggi. Seiring waktu bergulir, potensi timah yang terus-menerus dieksploitasi dari zaman Kesultanan Palembang kemudian Hindia Belanda hingga pasca kemerdekaan kian menipis. Kondisi ini pun diperparah dengan harga timah yang jatuh. Kini, timah dan usaha penambangan timah hanyalah sejarah yang boleh dikenang.

Typical Attractive dance Belitung Island


 
One by one the children ran into the terrain with the whole body smeared with mud . They brought trays and perform movements such as panning for tin 're doing activities . The atmosphere looks cheerful countenance at all of the original children 's Belitung .
That's a little picture of Tin Pan Dance hosted about 20 kids on the mat Belitung Beach Festival last May . Their presence is able to attract attention and entertain the crowd at Cape Coast Pendam , Belitung .
Movements children dancers in a circle like a tin pan and lined it looks very attractive and compact . Holding up a platter , they ran in a circle and the occasional issue shouts of laughter that invites the audience .
Witness the works of novelist Dance rainbow , Andrea Hirata , it feels so energetic and not infrequently the audience gave a standing ovation to the children dance dancer tin pan .

Pesona Pantai Para

Dahulu bernama Pantai Hakok, pantai ini telah berganti menjadi Pantai Parai Tenggiri. Letaknya berada di Desa Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, Bangka. Pantai ini berjarak 43 kilometer atau 45 menit dari pusat Kota Pangkal Pinang, Ibukota Bangka.

Disebut Pantai Parai atau Pantai Parai Tenggiri karena dahulu banyak nelayan yang mendatangkan ikan tenggiri dari pesisir pantai ini. Tetapi, wajah Pantai Parai Tenggiri telah berubah. Tidak ada lagi nelayan yang bisa dilihat di tepian pantai. Di sekitar pantai ini, terdapat berbagai penginapan yang bisa dijadikan pilihan bagi pengunjung yang ingin berlama-lama menikmati Pantai Parai Tenggiri.

Soal keindahan, Pantai Parai Tenggiri memiliki pasir putih dengan kelembutan yang menyerupai tepung. Bebatuan granit yang tersebar juga menjadi hiasan yang indah untuk dipandang. Belum lagi air laut yang bewarna biru kehijauan menambah sensasi saat berkunjung ke Pantai Parai Tenggiri.

Masuk ke area pantai, pengunjung akan dikenakan tiket retribusi sebesar Rp25.000, itu jika hanya menggunakan pantai sebagai tempat berenang. Jika ingin merasakan kolam yang tersedia di wilayah penginapan, pihak pengelola akan mengenakan biaya tambahan.

Berjalan-jalan mengelilingi pantai, berjemur, atau bermain dengan ombak yang relatif aman bisa menjadi aktivitas yang dapat dilakukan saat berkunjung ke Pantai Parai Tenggiri. Tetapi jika cuaca mendukung, pengunjung dapat mencoba berbagai wahana permainan air yang disediakan oleh pengelola. Jetski, banana boat, atau parasailing bisa menjadi pilihan bagi yang suka dengan permainan air.Bagi yang ingin mengadakan acara pribadi, pihak pengelola juga menyediakan paket dengan sentuhan yang bersifat pribadi. Jadi, pengunjung dapat menikmati suasana pantai yang indah bersama orang-orang terdekat dan tersayang.

Keindahan Pantai Parai Tenggiri tak hanya berhenti di pasir dan tepi pantainya. Masih terdapat Rock Island yang terhubung dengan jembatan sepanjang 200 meter. Jembatan ini berhiaskan lampu-lampu cantik. Saat malam, pancaran dari lampu-lampu tersebut menambah kecantikan Rock Island.

Walau berukuran kecil, kecantikan yang disajikan Rock Island sangatlah mempesona. Dengan bebatuan granit yang dapat didaki, pengunjung akan melihat tepian pantai dengan batu granit di atas pasir putih yang bersih. Ambil kamera dan abadikan momen yang berharga ini untuk menjadi kenang-kenangan yang indah untuk dibawa pulang.

Selesai mendaki bebatuan granit, restoran di Rock Island siap melayani dengan menu hidangan laut yang menggoda. Hembusan angin pantai yang sejuk ditambah pemandangan yang mempesona pasti akan membuat setiap pengunjung betah berlama-lama menikmati pesona kecantikan Pantai Parai Tenggiri.


Vihara Dewi Kwan Im

To enter this temple, you have to climb the stairs that amounted to about 86 pieces. This monastery has three places of prayer. First, Shimunyo which was near the stairs. Up more to the top, then you will find one more place of prayer called Sitiyamuni. Moving over to the above, then you will find the greatest worship at this temple that is Kon Im. 

This monastery is always filled with people who want to worship the great days when the religious as well as the time when the Chinese New Year feast of Vesak. This temple visitors not only Indonesian citizens, tourists from abroad too many who visited the monastery located in the village's Bird Bath. Some residents claimed, if prayer and pray for wishes can come true at this temple every desire. 

Aside from being a place of worship, this temple also has beautiful views of Mount Bird Bath is located just behind the temple. If you're lucky, you can also see the herd of monkeys came down from the hills in search of food to the monastery.

Gitar Dambus

Jika di Jawa kita kerap mengenal gamelan, provinsi Bangka Belitung juga memiliki potensi seni daerah yang juga tak kalah menarik.

Alat musik asli Bangka Belitung ini bernama Gambus. Sekilas bentuknya mirip dengan gitar. Alat musik ini merupakan alat musik berdawai ganda yang memiliki 6 senar gitar. Di daerah asalnya, Dambus merupakan alat musik yang kerap ditampilkan dalam pagelaran seni ataupun acara-acara tradisional seperti pesta pernikahan.

Meski tidak ada jejak sejarah yang ditemukan, namun alat musik ini dipercaya merupakan alat musik tradisional turun temurun dari nenek moyang.

Dambus biasanya dimainkan dengan diiringi lagu dan tarian khas Melayu di Bangka Belitung yang bernama Dincak.


Karnaval di Belitung Beach Festival

Bulan Mei 2013 lalu, masyarakat Negeri Laskar Pelangi dihibur oleh karnaval dengan kostum aneka warna dalam gelaran Belitung Beach Festival. Mereka memadati arena Pantai Tanjung Pendam untuk melihat dari dekat parade pakaian unik yang ditampilkan di acara ini.

Para peserta carnaval ini sebagian didatangkan langsung dari Jember. Mereka khusus datang untuk mengisi acara dan memeriahkan jalannya carnaval di Belitung Beach Festival. Selain peserta dari luar, Putra-putri daerah Belitung juga tidak mau ketinggalan untuk mengisi parade dengan pakaian hasil ciptaan mereka sendiri.

Pada festival yang dipusatkan di Pantai Tanjung Pendam ini, ditampilkan berbagai acara mulai dari pertunjukan karnaval berbagai busana hingga tarian unik bernama “mendulang timah”. Tari ini merupakan kreasi penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata.

Dalam tari ini, sekelompok anak melakukan gerakan-gerakan seperti sedang melakukan aktivitas mendulang timah. Mereka berlari sambil memegang dulang. Sekujur tubuh mereka ditutupi lumpur. Gerakan-gerakan lincah dari anak-anak ini memancing tawa penonton. Tepuk tangan meriah pun menjadi ungkapan apresiasi penonton pada anak-anak tersebut. Filosofi gerakan tari ini seperti menggambarkan kegiatan masyarakat Belitung yang melakukan pendulangan timah di tambang-tambang timah yang banyak terdapat di Belitung.

Sebagai kreator tari mendulang timah, Andrea Hirata berharap tari ini dapat menjadi tari khas dari Belitung. Di masa mendatang, Andrea Hirata pun berharap tari ini bisa tampil menghibur masyarakat Belitung di ajang Belitung Beach Festival.

Selain atraksi budaya, Belitung Beach Festival juga diramaikan oleh festival musik, pameran hasil kerajinan daerah Belitung dan tidak ketinggalan festival kuliner yang menyajikan aneka makanan khas negeri yang memiliki banyak pantai indah ini. Makanan yang dijajakan dalam acara ini antara lain mie Belitung, Gangan, dan sambal lengkong.

Dalam penyelenggaraannya, Belitung Beach Festival menggandeng Dynand Fariz selaku President Jember Fashion Carnaval untuk ikut terlibat dalam pagelaran yang rencananya akan diadakan setiap tahun ini.

Festival bertema “Under Sea World” ini dibuka oleh Bupati Belitung Darmansyah Husain serta dihadiri oleh pejabat-pejabat daerah dari Provinsi Bangka Belitung. 

Pletek, Cemilan Gurih Khas Pulau Belitung


Selain sambal lingkung dan kue rintak, Belitung juga memiliki makanan khas yang biasanya dijadikan buah tangan untuk keluarga di rumah, pletek. Kuliner ini sekilas terlihat sama dengan getes dari Bangka. Pletek menjadi salah satu oleh-oleh favorit yang dibawa wisatawan setelah berkunjung ke Negeri Laskar Pelangi.

Pletek memiliki bentuk agak elips dan berwarna putih kecokelatan. Saat dikunyah, penganan ini terasa gurih dan nikmat. Pletek terbuat dari bahan dasar ikan tenggiri. Daging ikan tersebut kemudian diberi tambahan bumbu-bumbu seperti garam dan merica. Karenanya, pletek akan terasa gurih saat dimakan.

Tidak terlalu sulit menemukan pletek saat berkunjung ke Belitung. Penganan ini tersedia di toko-toko yang menjual aneka buah tangan khas Belitung. Biasanya, penganan ini diletakkan dengan cara digantung. Satu bungkus pletek biasa dijual Rp10.000.

Jika kebetulan berkunjung ke Belitung, tidak ada salahnya mencoba kuliner yang satu ini dan menjadikannya oleh-oleh untuk sanak saudara di rumah.

Jejak Peninggalan Kerajaan Badau di Museum Badau

Museum Badau namanya, Museum ini menyimpan benda-benda Kerajaan Badau yang dahulu cukup disegani di Belitung. Salah satu koleksi museum ini adalah sepasang tombak besar yang dahulu dibuat oleh raja pertama Badau bernama Daloeng Muyang Gresik yang tidak lain adalah murid Sunan Gresik.

Tombak yang diberi nama Berlek 13 ini konon memiliki jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kedua tombak ini tidak dapat dipisahkan. Kedua tombak ini disimpan dalam satu lemari dan diberi parfum yang konon sebagai makanan kedua tombak ini.

Pernah satu ketika tombak ini dipisahkan, dimana tombak berjenis kelamin laki-laki diletakan di Museum Tanjung Pandan dan tombak berjenis kelamin perempuan tetap di Museum Badau. Namun entah bagaimana, tombak laki-laki kembali sendiri ke Museum Badau dan berdampingan kembali dengan pasangannya.

Selain tombak, di Museum dengan bangunan seperti rumah ini juga terdapat aneka senjata seperti pedang, keris, yang dahulu digunakan tentara Kerajaan Badau untuk berperang melawan Belanda.

Pengunjung juga bisa melihat peninggalan barang-barang rumah tangga pada masa Kerajaan Badau seperti kendi, baki, dan periok dalong. Semua benda-benda ini tersusun rapih didalam lemari yang berada di ruangan dalam.

Pada halaman depan museum yang terletak di Jalan Abdul Rahman No. 1 Badau, ini pengunjung dapat melihat patung tentara Badau sedang membawa tombak. Patung ini seperti menjadi simbol kejayaan tentara Badau yang dahulu menguasai beberapa daerah di sekitar Belitung seperti Ibul, Bangek, dan Bentalan.

Saat ini Museum Badau dijaga oleh Ki Johar Juki yang merupakan cucu Raja Badau ke-10. Ki Johar sehari-harinya merawat dan membersihkan semua benda-benda peninggalan kerajaan di museum ini