Senin, 29 September 2014

Museum Timah Bangka-Belitung

Wisata sejarah dan edukasi, inilah yang bisa Anda dapatkan saat mengunjungi Museum Timah di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Museum Yang dulunya rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW) tersebut beralamat di Jalan Ahmad Yani No. 179, Pangkalpinang. Didirikan tahun 1958, Museum Timah Indonesia adalah satu-satunya museum timah di Indonesia dan bahkan di Asia  dimana kini dikelola PT. Tambang Timah (Persero) Tbk.

Penambangan timah sendiri berkembang pesat di Bangka sejak 1858 dimana  banyak ditemukannya benda-benda tradisional penambang zaman dahulu. Inilah yang mengawali pembangunan Museum Timah dan yang tentu saja keberadaannya untuk “mendokumentasikan” sejarah penambangan timah di Bangka Belitung yang sempat sangat berjaya di masa silam dan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas.

Meski telah ada sejak tahun 50-an, Museum Timah baru diresmikan pada 2 Agustus 1997. Selain menyimpan catatan perjalanan panjang sejarah pertimahan, gedung ini juga memiliki nilai sejarah yang penting bagi kemerdekaan RI. Gedung tersebut pernah menjadi lokasi perundingan Komisi Tiga Negara sehingga lahirlah Roem-Royen Statement pada 7 Mei 1949 yang berujung pada penyerahan kedaulatan Republik Indonesia pada Desember 1949.

Bangka dan timah memang tak terpisahkan. Nama Bangka sendiri berasal dariwangka yang artinya timah. Bagaimana tidak, timah di pulau ini dulunya sangat melimpah dan berharga tinggi. Seiring waktu bergulir, potensi timah yang terus-menerus dieksploitasi dari zaman Kesultanan Palembang kemudian Hindia Belanda hingga pasca kemerdekaan kian menipis. Kondisi ini pun diperparah dengan harga timah yang jatuh. Kini, timah dan usaha penambangan timah hanyalah sejarah yang boleh dikenang.

Typical Attractive dance Belitung Island


 
One by one the children ran into the terrain with the whole body smeared with mud . They brought trays and perform movements such as panning for tin 're doing activities . The atmosphere looks cheerful countenance at all of the original children 's Belitung .
That's a little picture of Tin Pan Dance hosted about 20 kids on the mat Belitung Beach Festival last May . Their presence is able to attract attention and entertain the crowd at Cape Coast Pendam , Belitung .
Movements children dancers in a circle like a tin pan and lined it looks very attractive and compact . Holding up a platter , they ran in a circle and the occasional issue shouts of laughter that invites the audience .
Witness the works of novelist Dance rainbow , Andrea Hirata , it feels so energetic and not infrequently the audience gave a standing ovation to the children dance dancer tin pan .

Pesona Pantai Para

Dahulu bernama Pantai Hakok, pantai ini telah berganti menjadi Pantai Parai Tenggiri. Letaknya berada di Desa Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, Bangka. Pantai ini berjarak 43 kilometer atau 45 menit dari pusat Kota Pangkal Pinang, Ibukota Bangka.

Disebut Pantai Parai atau Pantai Parai Tenggiri karena dahulu banyak nelayan yang mendatangkan ikan tenggiri dari pesisir pantai ini. Tetapi, wajah Pantai Parai Tenggiri telah berubah. Tidak ada lagi nelayan yang bisa dilihat di tepian pantai. Di sekitar pantai ini, terdapat berbagai penginapan yang bisa dijadikan pilihan bagi pengunjung yang ingin berlama-lama menikmati Pantai Parai Tenggiri.

Soal keindahan, Pantai Parai Tenggiri memiliki pasir putih dengan kelembutan yang menyerupai tepung. Bebatuan granit yang tersebar juga menjadi hiasan yang indah untuk dipandang. Belum lagi air laut yang bewarna biru kehijauan menambah sensasi saat berkunjung ke Pantai Parai Tenggiri.

Masuk ke area pantai, pengunjung akan dikenakan tiket retribusi sebesar Rp25.000, itu jika hanya menggunakan pantai sebagai tempat berenang. Jika ingin merasakan kolam yang tersedia di wilayah penginapan, pihak pengelola akan mengenakan biaya tambahan.

Berjalan-jalan mengelilingi pantai, berjemur, atau bermain dengan ombak yang relatif aman bisa menjadi aktivitas yang dapat dilakukan saat berkunjung ke Pantai Parai Tenggiri. Tetapi jika cuaca mendukung, pengunjung dapat mencoba berbagai wahana permainan air yang disediakan oleh pengelola. Jetski, banana boat, atau parasailing bisa menjadi pilihan bagi yang suka dengan permainan air.Bagi yang ingin mengadakan acara pribadi, pihak pengelola juga menyediakan paket dengan sentuhan yang bersifat pribadi. Jadi, pengunjung dapat menikmati suasana pantai yang indah bersama orang-orang terdekat dan tersayang.

Keindahan Pantai Parai Tenggiri tak hanya berhenti di pasir dan tepi pantainya. Masih terdapat Rock Island yang terhubung dengan jembatan sepanjang 200 meter. Jembatan ini berhiaskan lampu-lampu cantik. Saat malam, pancaran dari lampu-lampu tersebut menambah kecantikan Rock Island.

Walau berukuran kecil, kecantikan yang disajikan Rock Island sangatlah mempesona. Dengan bebatuan granit yang dapat didaki, pengunjung akan melihat tepian pantai dengan batu granit di atas pasir putih yang bersih. Ambil kamera dan abadikan momen yang berharga ini untuk menjadi kenang-kenangan yang indah untuk dibawa pulang.

Selesai mendaki bebatuan granit, restoran di Rock Island siap melayani dengan menu hidangan laut yang menggoda. Hembusan angin pantai yang sejuk ditambah pemandangan yang mempesona pasti akan membuat setiap pengunjung betah berlama-lama menikmati pesona kecantikan Pantai Parai Tenggiri.


Vihara Dewi Kwan Im

To enter this temple, you have to climb the stairs that amounted to about 86 pieces. This monastery has three places of prayer. First, Shimunyo which was near the stairs. Up more to the top, then you will find one more place of prayer called Sitiyamuni. Moving over to the above, then you will find the greatest worship at this temple that is Kon Im. 

This monastery is always filled with people who want to worship the great days when the religious as well as the time when the Chinese New Year feast of Vesak. This temple visitors not only Indonesian citizens, tourists from abroad too many who visited the monastery located in the village's Bird Bath. Some residents claimed, if prayer and pray for wishes can come true at this temple every desire. 

Aside from being a place of worship, this temple also has beautiful views of Mount Bird Bath is located just behind the temple. If you're lucky, you can also see the herd of monkeys came down from the hills in search of food to the monastery.

Gitar Dambus

Jika di Jawa kita kerap mengenal gamelan, provinsi Bangka Belitung juga memiliki potensi seni daerah yang juga tak kalah menarik.

Alat musik asli Bangka Belitung ini bernama Gambus. Sekilas bentuknya mirip dengan gitar. Alat musik ini merupakan alat musik berdawai ganda yang memiliki 6 senar gitar. Di daerah asalnya, Dambus merupakan alat musik yang kerap ditampilkan dalam pagelaran seni ataupun acara-acara tradisional seperti pesta pernikahan.

Meski tidak ada jejak sejarah yang ditemukan, namun alat musik ini dipercaya merupakan alat musik tradisional turun temurun dari nenek moyang.

Dambus biasanya dimainkan dengan diiringi lagu dan tarian khas Melayu di Bangka Belitung yang bernama Dincak.


Karnaval di Belitung Beach Festival

Bulan Mei 2013 lalu, masyarakat Negeri Laskar Pelangi dihibur oleh karnaval dengan kostum aneka warna dalam gelaran Belitung Beach Festival. Mereka memadati arena Pantai Tanjung Pendam untuk melihat dari dekat parade pakaian unik yang ditampilkan di acara ini.

Para peserta carnaval ini sebagian didatangkan langsung dari Jember. Mereka khusus datang untuk mengisi acara dan memeriahkan jalannya carnaval di Belitung Beach Festival. Selain peserta dari luar, Putra-putri daerah Belitung juga tidak mau ketinggalan untuk mengisi parade dengan pakaian hasil ciptaan mereka sendiri.

Pada festival yang dipusatkan di Pantai Tanjung Pendam ini, ditampilkan berbagai acara mulai dari pertunjukan karnaval berbagai busana hingga tarian unik bernama “mendulang timah”. Tari ini merupakan kreasi penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata.

Dalam tari ini, sekelompok anak melakukan gerakan-gerakan seperti sedang melakukan aktivitas mendulang timah. Mereka berlari sambil memegang dulang. Sekujur tubuh mereka ditutupi lumpur. Gerakan-gerakan lincah dari anak-anak ini memancing tawa penonton. Tepuk tangan meriah pun menjadi ungkapan apresiasi penonton pada anak-anak tersebut. Filosofi gerakan tari ini seperti menggambarkan kegiatan masyarakat Belitung yang melakukan pendulangan timah di tambang-tambang timah yang banyak terdapat di Belitung.

Sebagai kreator tari mendulang timah, Andrea Hirata berharap tari ini dapat menjadi tari khas dari Belitung. Di masa mendatang, Andrea Hirata pun berharap tari ini bisa tampil menghibur masyarakat Belitung di ajang Belitung Beach Festival.

Selain atraksi budaya, Belitung Beach Festival juga diramaikan oleh festival musik, pameran hasil kerajinan daerah Belitung dan tidak ketinggalan festival kuliner yang menyajikan aneka makanan khas negeri yang memiliki banyak pantai indah ini. Makanan yang dijajakan dalam acara ini antara lain mie Belitung, Gangan, dan sambal lengkong.

Dalam penyelenggaraannya, Belitung Beach Festival menggandeng Dynand Fariz selaku President Jember Fashion Carnaval untuk ikut terlibat dalam pagelaran yang rencananya akan diadakan setiap tahun ini.

Festival bertema “Under Sea World” ini dibuka oleh Bupati Belitung Darmansyah Husain serta dihadiri oleh pejabat-pejabat daerah dari Provinsi Bangka Belitung. 

Pletek, Cemilan Gurih Khas Pulau Belitung


Selain sambal lingkung dan kue rintak, Belitung juga memiliki makanan khas yang biasanya dijadikan buah tangan untuk keluarga di rumah, pletek. Kuliner ini sekilas terlihat sama dengan getes dari Bangka. Pletek menjadi salah satu oleh-oleh favorit yang dibawa wisatawan setelah berkunjung ke Negeri Laskar Pelangi.

Pletek memiliki bentuk agak elips dan berwarna putih kecokelatan. Saat dikunyah, penganan ini terasa gurih dan nikmat. Pletek terbuat dari bahan dasar ikan tenggiri. Daging ikan tersebut kemudian diberi tambahan bumbu-bumbu seperti garam dan merica. Karenanya, pletek akan terasa gurih saat dimakan.

Tidak terlalu sulit menemukan pletek saat berkunjung ke Belitung. Penganan ini tersedia di toko-toko yang menjual aneka buah tangan khas Belitung. Biasanya, penganan ini diletakkan dengan cara digantung. Satu bungkus pletek biasa dijual Rp10.000.

Jika kebetulan berkunjung ke Belitung, tidak ada salahnya mencoba kuliner yang satu ini dan menjadikannya oleh-oleh untuk sanak saudara di rumah.

Jejak Peninggalan Kerajaan Badau di Museum Badau

Museum Badau namanya, Museum ini menyimpan benda-benda Kerajaan Badau yang dahulu cukup disegani di Belitung. Salah satu koleksi museum ini adalah sepasang tombak besar yang dahulu dibuat oleh raja pertama Badau bernama Daloeng Muyang Gresik yang tidak lain adalah murid Sunan Gresik.

Tombak yang diberi nama Berlek 13 ini konon memiliki jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kedua tombak ini tidak dapat dipisahkan. Kedua tombak ini disimpan dalam satu lemari dan diberi parfum yang konon sebagai makanan kedua tombak ini.

Pernah satu ketika tombak ini dipisahkan, dimana tombak berjenis kelamin laki-laki diletakan di Museum Tanjung Pandan dan tombak berjenis kelamin perempuan tetap di Museum Badau. Namun entah bagaimana, tombak laki-laki kembali sendiri ke Museum Badau dan berdampingan kembali dengan pasangannya.

Selain tombak, di Museum dengan bangunan seperti rumah ini juga terdapat aneka senjata seperti pedang, keris, yang dahulu digunakan tentara Kerajaan Badau untuk berperang melawan Belanda.

Pengunjung juga bisa melihat peninggalan barang-barang rumah tangga pada masa Kerajaan Badau seperti kendi, baki, dan periok dalong. Semua benda-benda ini tersusun rapih didalam lemari yang berada di ruangan dalam.

Pada halaman depan museum yang terletak di Jalan Abdul Rahman No. 1 Badau, ini pengunjung dapat melihat patung tentara Badau sedang membawa tombak. Patung ini seperti menjadi simbol kejayaan tentara Badau yang dahulu menguasai beberapa daerah di sekitar Belitung seperti Ibul, Bangek, dan Bentalan.

Saat ini Museum Badau dijaga oleh Ki Johar Juki yang merupakan cucu Raja Badau ke-10. Ki Johar sehari-harinya merawat dan membersihkan semua benda-benda peninggalan kerajaan di museum ini